MACAM-MACAM SIFAT TERPUJI
1. Az-Zuhd
Sikap melepaskan diri dari ketergantungan terhadap duniawi dengan mengutamakan kehidupan akhirat. Zuhud bukan berarti mengosongkan tangan dari harta, melainkan mengosongkan hati dari ketergantungan pada harta. Karena keduniaan dapat memalingkan hati manusia dari Allah SWT.
Ibnu Taimiyah membedakan zuhd dengan dua macam:
1). Zuhd yang sesuai syari`at, adalah meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat di akhirat.
2). Zuhd yang tidak sesuai dengan syari`at, adalah meninggalkan segala sesuatu yang dapat menolong seseorang hamba untuk taat beribadah kepada Allah.
2. Al-Qana`ah
Adalah hatinya tenang memilih ridha Allah mengambil keduniawian sekedar hajat yang diperkirakan dapat menolong untuk taat memenuhi kewajiban syariat menjauhkan maksiyat.
Keutamaan orang fakir yang berkona`ah :
a. Derajatnya lebih tinggi dihadapan Allah dibandingkan dengan orang kaya yang tidak memiliki sifat qana`ah.
b. Lebih dahulu masuk surga dibandingkan dengan orang kaya yang tidak qana`ah meskipun sama-sama beribadah.
c. Orang fakir secara lahiriyah sedikit melakukan amal ibadah akan memperoleh pahala yang besar dari pada orang kaya yang secara lahiriyah banyak melakukan amal ibadah dan bersedekah.
3. Al-Shabr
Secara bahasa : Menanggung kesulitan, beban.
Secara istilah : Melaksanakan tiga perkara :
a. Menanggung kesulitan ibadah memenuhi kewajiban dengan penuh ketaatan.
b. Menanggung kesulitan taubah yang benar menjauhi perbuatan maksiyat lahir batin sebatas kemampuan.
c. Menanggung kesulitan hati ketika tertimpa musibah di dunia kosong dari keluhan yang tidak benar.
4. Al-Tawakkal
Berserah diri kepada Allah yang disertai dengan ikhtiyar dan usaha mencari rizki untuk keperluan ibadah kepada Allah, serta memerangi hawa nafsu yang mengajak pada kesesatan dan tamak terhadap dunia.
5. Al-Mujahadah
Menurut Bahasa : Bersungguh-sungguh terhadap suatu perbuatan yang dituju.
Menurut Istilah : Bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah memenuhi kewajiban dan meninggalkan kemaksiyatan sekuat tenaga lahir batin.
Mujahadah berarti :
Bekerja keras dan berjuang melawan hawa nafsu.
Berjuang melawan bujukan syaitan.
Berjuang menundukkan diri agar tetap mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangannya.
6. Al-Ridha
Menurut bahasa : Menerima kenyataan dengan suka hati
Menurut istilah : Menerinma segala pemberian Allah dan menerima hukum Allah yaitu syari`at wajib dilaksanakan dengan ikhlas dan taat serta menjahui kejahatan maksiat dan meneria berbagai cobaan dari Allah.
Ridha Berarti menerima dengan tulus segala pemberian Allah, hukum-Nya, berbagai macam cobaan yang ditakdirkan-Nya, dan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya dengan penuh ketaatan dan keikhlasan, baik secra lahir maupun batin.
7. Al-Syukr
Menurut bahasa : Senang hatinya.
Menurut istilah ; Mengetahui nikmat-nikmat yang diberikan Allah kemudian nikmat yang diberikan itu digunakan untuk berbakti kepada-Nya dengan memenuhi kewajiban dan meninggalkan maksiat secara lahir dan batin sesuai kemampuannya.
Untuk mensyukuri nikmat Allah ada 3 cara :
1) Mengucapkan pujian kepada Allah dengan lafal alhamdulillah.
2) Segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya harus digunakan untuk berbakti kepada Allah,
3) Menunaikan perintah-perintah syara` minimal ibadah wajib dan meninggalkan maksiyat dengan ikhlas lahir dan batin.
8. Al-Ikhlas
Menurut bahasa : Bersih
Menurut istilah : Membersihkan hati agar ia menuju kepada Allah semata dalam melaksanakan ibadah, hati tidak boleh menuju selain Allah.
Ikhlas dalam beribadah ada 2 macam, apabila salah satunya atau keduanya tidak dikerjakan maka amal ibadah tidak diterima Allah.
1) Perbuatan hati harus dipusatkan menuju kepada Allah semata dengan penuh ketaatan.
2) Perbuatan lahiriyah harus benar sesuai dengan pedoman syariat (fiqh)
Sifat ikhlas dibagi menjadi 3 tingkatan :
1) Ikhlas `awwam, yaitu seseorang yang melakukan ibadah kepada Allah karena didorong oleh rasa takut menghadapi siksaan-Nya yang amat pedih, dan didorong oleh adanya harapan untuk mendapatkan pahala dari-Nya.
2) Ikhlas khawwash, yaitu seseorang yang melakukan Ibadah kepada Allah karena didorong oleh adanya harapan ingin dekat dengan Allah dan karena didorong oleh adanya harapan untuk mendapatkan sesuatu dan dekat kepada Allah.
3) Ikhlas khawwash al-khawwash, yaitu seseorang yang melakukan ibadah kepada Allah yang semata-mata didorong oleh kesadaran yang mendalam untuk meng Esakan Allah dan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, serta bathin mengekalkan puji syukur kepada Allah.
Dari delapan sifat –sifat terpuji dan sifat-sifat tercela dalam istilah tasawwuf disebut MAQAMAT. Ajaran tasawwuf yang hanya sampai batas pendidikan akhlak untuk mencapai kesucian hati ini disebut tasawwuf akhlaki. Sedangkan seorang hamba yang mencapai kesucian hati sesuci-sucinya akan memperoleh anugrah Allah baik berupa MAHABBAT, QURB, MA`RIFAT ataupun lainnya dalam istilah tasawwuf disebut AHWAL.
Al-Mahabbat, al-Qurb, al- Ma`rifat
Dari ketiga istilah diatas kadang dipakai sebagai maqamat dan kadang sebagai ahwal. Bagi al-Junaid , ma`rifat termasuk kategori ahwal, sedangkan menurut al-Qusyairi, ma`rifat termasuk kategori maqamat. Al-Ghazali membedakan susunan antara ma`rifat dan mahabbat. Mahabbat diperoleh sesudah mencapai ma`rifat, tapi kalau menurut al-Kaladzi bahwa mahabbat diperoleh sebelum ma`rifat.
1. Al-Mahabbat
Adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dilihatnya atau apa yang diduganya baik. A.Rifa`i mengatakan bahwa cinta seorang hamba kepada Allah adalah berbakti kepada-Nya dengan mematuhi semua perintah-Nya dan meningglakan semua larangan-Nya, dan jika melakukan dosa segera bertaubat.
Adapun tanda-tanda orang yang cinta kepada Allah menurut Rifa`I sebagai berikut :
Ia senantiasa mengikuti ajaran-ajaran Nabi Muhammad, karena dengan demikian berarti ia telah mencintai Allah.
Ia senantiasa ikhlas dalam mematuhi semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan, karena ikhlas merupakan ruhnya ibadah. Cinta kepada Allah memerlukan pengorbanan yang betul-betul ikhlas, (maksudnya tidak merasa berat dalam beribadah kepada-Nya). Cinta kepada Allah merupakan nyawanya iman dan merupakan sahnya iman.
2. Al-Qurb
Adalah dekatnya hati seorang hamba dengan Allah, sehingga ia mampu menyaksikan keagungan dan kemuliaan-Nya. Ketika ia melihat segala sesuatu yang ada di alam ini, maka hatinya senantiasa merasakan bahwa segala sesuatu itu adalah ciptaan Allah dan perbuatan-Nya.
Semester II
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar