Matahari telah tersadar bahwa aku mencintainya dan membutuhkannya.
Namun, ketika aku bertindak bodoh dan mencoba untuk mendekatinya.
Dia mengingatkan aku bahwa aku bukanlah manusia tahan panas yang mampu berdiri di dekatnya.
Bukan berarti putus asa, akan tetapi itulah takdirku dan takdirnya.
Dia matahari dan aku manusia. ...
Dan diriku pun mulai sadar, tak mungkin mengejar matahari..
aku berfikir...
Apakah ada bedanya, ketika aku hanya diam menunggu dengan ketika aku mengejar bayangannya?
Keduanya sama-sama kosong...
aku pun memutuskan untuk menunggunya dan terus menunggunya
sampai saat kunjungan matahari tiba tanpa harus dikejar, saat matahari menghampiriku di bumi penantian,
dan saat matahari menghanguskan seluruh hidupku demi sebuah cinta dan harapan
Cinta yang aku beri, sepenuh hati... Entah yang aku terima, aku tak perduli...
MATAHARI DAN MANUSIA
aku tahu siapa yang kamu suka..
aku tahu siapa yang kamu cinta...
dari tutur bicaramu..
dari perlakuanmu kepadanya..
saat kau berbicara tentang dirinya di depanku...
entah sengaja atau tidak..ada sesuatu yg lebih dr bicaramu...
entah.. seperti ada kekuatan ghaib yang membuatmu seperti itu..
tapi... aku suka itu...
aku doakan...
semoga kalian bisa menyatukan cinta kalian...
senang sekali rasanya nanti jika aku mendapat undangan dari kalian...
dan aku harapkan seperti itu...
suatu saat nanti ... .....
Artikel 1
Artikel 1
MEMBACA SHOLAWAT SETELAH ADZAN
Bila difahami lebih mendalam seringkali sebuah laku ibadah memiliki nilai ganda. Satu nilai spiritual yang berorientasi Yang Maha Kuasa (hablum minallah), Sisi lain nilai social (hablum minan nas) menjadi syiar bagi Islam itu sendiri. Misalnya shalat Jum’ah, ibadah haji, Adzan dan lain sebagainya. Akan tetapi sebagian kaum muslim tidak dapat memahami hal ini dengan baik. Malahan sebaliknya, laku ibadah itu menjadi sumber perdebatan yang ujungnya bermuara pada pembelaan ego sebuah kelompok tertentu. Sehingga yang terjadi adalah saling tuding bid’ah dan klaim-klaim primordial
Sebut saja perdebatan mengenai hukum khatib memegang tongkat dalam shalat jum’at. Atau hukum berziarah ke tempat-tempat bersejarah di Makkah-Madinah ketika haji. Atau sekedar membaca shalawat setelah adzan dalam setiap shalat dan masih banyak lagi lainnya. Perdebatan semacam ini tidak harus terjadi apabila kaum muslimin memahami konteks sebuah laku ibadah.
Di sinilah perlunya klarifikasi hukum berdasar pada dalil hadits maupun sunnah. Seperti dalil seputar pembacaan shalawat kepada Nabi setelah adzan yang asal hukumnya adalah sunnah, dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim (hadits no. 384), dan Abu Dawud (hadis no. 523). Yaitu:
اِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَأَ فَقُوْلُوْا مَثَلُ مَا يَقُوْلُ ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ
Artinya: Ketika kalian mendengarkan adzan maka jawablah, kemudian setelah itu bacalah sholawat kepadaku. (H.R. Muslim dan Abu Dawud)
Pendapat di atas ini juga didukung oleh Imam Jalaludin as-Suyuthi, Ibnu Hajar al-Haitsami, Syeikh Zakariya al-Anshari, dan lain lain.
Imam Ibnu Abidin dalam ‘hasyiyahnya’ mengatakan, bahwa pendapat yang didukung oleh Madzhab Syafi’i dan Hanbali adalah pendapat yang mengatakan shalawat setelah adzan adalah sunah bagi orang yang adzan dan orang yang mendengarkannya.
Para ulama memberikan penjelasan bahwa, pada hakikatnya puji-pujian setelah adzan adalah dalam kategori bid’ah hasanah.
Sedangkan pengamalan puji-pujian secara popular baru mulai sekitar tahun 781 H, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abidin dalam kitab “Hasiyah” yang merujuk pada pendapat Imam as-Sakhawi.
Dalam kitab “taj al-jami” ada dijelaskan bahwa :
اَلصَّلاَةُ بَعْدَ اْلاَذنِ سُنَّةٌ لِلسَّامِعِ وَاْلمُؤَذّنُ وَلَوْ بِرَفْعِ الصَّوْتِ, وَعَلَيْهِ الشَّافِعِيَّة وَاْلحَنَابِلَة وَهِيَ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ .
Artinya : Membaca shalawat setelah adzan adalah sunah, baik bagi orang yang adzan maupun orang yang mendengarkannya, dan boleh mengeraskan suara. Pendapat inilah yang didukung oleh kalangan madzhab Syafi’iyah, dan kalangan madzhab Hanbali.
Sumber "Tradisi Amalian NU dan Dalilnya", LTM-PBNU, Jakarta, 2011 (Redaktur: Ulil Hadrawi)
Semester II
MACAM-MACAM SIFAT TERPUJI
1. Az-Zuhd
Sikap melepaskan diri dari ketergantungan terhadap duniawi dengan mengutamakan kehidupan akhirat. Zuhud bukan berarti mengosongkan tangan dari harta, melainkan mengosongkan hati dari ketergantungan pada harta. Karena keduniaan dapat memalingkan hati manusia dari Allah SWT.
Ibnu Taimiyah membedakan zuhd dengan dua macam:
1). Zuhd yang sesuai syari`at, adalah meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat di akhirat.
2). Zuhd yang tidak sesuai dengan syari`at, adalah meninggalkan segala sesuatu yang dapat menolong seseorang hamba untuk taat beribadah kepada Allah.
2. Al-Qana`ah
Adalah hatinya tenang memilih ridha Allah mengambil keduniawian sekedar hajat yang diperkirakan dapat menolong untuk taat memenuhi kewajiban syariat menjauhkan maksiyat.
Keutamaan orang fakir yang berkona`ah :
a. Derajatnya lebih tinggi dihadapan Allah dibandingkan dengan orang kaya yang tidak memiliki sifat qana`ah.
b. Lebih dahulu masuk surga dibandingkan dengan orang kaya yang tidak qana`ah meskipun sama-sama beribadah.
c. Orang fakir secara lahiriyah sedikit melakukan amal ibadah akan memperoleh pahala yang besar dari pada orang kaya yang secara lahiriyah banyak melakukan amal ibadah dan bersedekah.
3. Al-Shabr
Secara bahasa : Menanggung kesulitan, beban.
Secara istilah : Melaksanakan tiga perkara :
a. Menanggung kesulitan ibadah memenuhi kewajiban dengan penuh ketaatan.
b. Menanggung kesulitan taubah yang benar menjauhi perbuatan maksiyat lahir batin sebatas kemampuan.
c. Menanggung kesulitan hati ketika tertimpa musibah di dunia kosong dari keluhan yang tidak benar.
4. Al-Tawakkal
Berserah diri kepada Allah yang disertai dengan ikhtiyar dan usaha mencari rizki untuk keperluan ibadah kepada Allah, serta memerangi hawa nafsu yang mengajak pada kesesatan dan tamak terhadap dunia.
5. Al-Mujahadah
Menurut Bahasa : Bersungguh-sungguh terhadap suatu perbuatan yang dituju.
Menurut Istilah : Bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah memenuhi kewajiban dan meninggalkan kemaksiyatan sekuat tenaga lahir batin.
Mujahadah berarti :
Bekerja keras dan berjuang melawan hawa nafsu.
Berjuang melawan bujukan syaitan.
Berjuang menundukkan diri agar tetap mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangannya.
6. Al-Ridha
Menurut bahasa : Menerima kenyataan dengan suka hati
Menurut istilah : Menerinma segala pemberian Allah dan menerima hukum Allah yaitu syari`at wajib dilaksanakan dengan ikhlas dan taat serta menjahui kejahatan maksiat dan meneria berbagai cobaan dari Allah.
Ridha Berarti menerima dengan tulus segala pemberian Allah, hukum-Nya, berbagai macam cobaan yang ditakdirkan-Nya, dan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya dengan penuh ketaatan dan keikhlasan, baik secra lahir maupun batin.
7. Al-Syukr
Menurut bahasa : Senang hatinya.
Menurut istilah ; Mengetahui nikmat-nikmat yang diberikan Allah kemudian nikmat yang diberikan itu digunakan untuk berbakti kepada-Nya dengan memenuhi kewajiban dan meninggalkan maksiat secara lahir dan batin sesuai kemampuannya.
Untuk mensyukuri nikmat Allah ada 3 cara :
1) Mengucapkan pujian kepada Allah dengan lafal alhamdulillah.
2) Segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya harus digunakan untuk berbakti kepada Allah,
3) Menunaikan perintah-perintah syara` minimal ibadah wajib dan meninggalkan maksiyat dengan ikhlas lahir dan batin.
8. Al-Ikhlas
Menurut bahasa : Bersih
Menurut istilah : Membersihkan hati agar ia menuju kepada Allah semata dalam melaksanakan ibadah, hati tidak boleh menuju selain Allah.
Ikhlas dalam beribadah ada 2 macam, apabila salah satunya atau keduanya tidak dikerjakan maka amal ibadah tidak diterima Allah.
1) Perbuatan hati harus dipusatkan menuju kepada Allah semata dengan penuh ketaatan.
2) Perbuatan lahiriyah harus benar sesuai dengan pedoman syariat (fiqh)
Sifat ikhlas dibagi menjadi 3 tingkatan :
1) Ikhlas `awwam, yaitu seseorang yang melakukan ibadah kepada Allah karena didorong oleh rasa takut menghadapi siksaan-Nya yang amat pedih, dan didorong oleh adanya harapan untuk mendapatkan pahala dari-Nya.
2) Ikhlas khawwash, yaitu seseorang yang melakukan Ibadah kepada Allah karena didorong oleh adanya harapan ingin dekat dengan Allah dan karena didorong oleh adanya harapan untuk mendapatkan sesuatu dan dekat kepada Allah.
3) Ikhlas khawwash al-khawwash, yaitu seseorang yang melakukan ibadah kepada Allah yang semata-mata didorong oleh kesadaran yang mendalam untuk meng Esakan Allah dan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, serta bathin mengekalkan puji syukur kepada Allah.
Dari delapan sifat –sifat terpuji dan sifat-sifat tercela dalam istilah tasawwuf disebut MAQAMAT. Ajaran tasawwuf yang hanya sampai batas pendidikan akhlak untuk mencapai kesucian hati ini disebut tasawwuf akhlaki. Sedangkan seorang hamba yang mencapai kesucian hati sesuci-sucinya akan memperoleh anugrah Allah baik berupa MAHABBAT, QURB, MA`RIFAT ataupun lainnya dalam istilah tasawwuf disebut AHWAL.
Al-Mahabbat, al-Qurb, al- Ma`rifat
Dari ketiga istilah diatas kadang dipakai sebagai maqamat dan kadang sebagai ahwal. Bagi al-Junaid , ma`rifat termasuk kategori ahwal, sedangkan menurut al-Qusyairi, ma`rifat termasuk kategori maqamat. Al-Ghazali membedakan susunan antara ma`rifat dan mahabbat. Mahabbat diperoleh sesudah mencapai ma`rifat, tapi kalau menurut al-Kaladzi bahwa mahabbat diperoleh sebelum ma`rifat.
1. Al-Mahabbat
Adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dilihatnya atau apa yang diduganya baik. A.Rifa`i mengatakan bahwa cinta seorang hamba kepada Allah adalah berbakti kepada-Nya dengan mematuhi semua perintah-Nya dan meningglakan semua larangan-Nya, dan jika melakukan dosa segera bertaubat.
Adapun tanda-tanda orang yang cinta kepada Allah menurut Rifa`I sebagai berikut :
Ia senantiasa mengikuti ajaran-ajaran Nabi Muhammad, karena dengan demikian berarti ia telah mencintai Allah.
Ia senantiasa ikhlas dalam mematuhi semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan, karena ikhlas merupakan ruhnya ibadah. Cinta kepada Allah memerlukan pengorbanan yang betul-betul ikhlas, (maksudnya tidak merasa berat dalam beribadah kepada-Nya). Cinta kepada Allah merupakan nyawanya iman dan merupakan sahnya iman.
2. Al-Qurb
Adalah dekatnya hati seorang hamba dengan Allah, sehingga ia mampu menyaksikan keagungan dan kemuliaan-Nya. Ketika ia melihat segala sesuatu yang ada di alam ini, maka hatinya senantiasa merasakan bahwa segala sesuatu itu adalah ciptaan Allah dan perbuatan-Nya.
Agama
Agama
REFLEKSI HARDIKNAS Pendidikan Pesantren mampu Akrab dengan Modernitas
Jakarta, NU Online
Konsentrasi pendidikan pesantren yang banyak tercurah pada disiplin keislaman tak lantas membuatnya selalu tertinggal. Buktinya, selain serius mengkaji kitab-kitab klasik, pensantren sekarang mampu bersikap terbuka dengan pengetahuan umum dan teknologi modern.
“Pesantren telah menunjukkan banyak perkembangan dan mampu beradaptasi dengan perubahan dunia modern,” ungkap Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Amin Haedari, Kamis (3/5).
Menurut Amin, melalui gejala ini pandangan sebagian orang tentang pesantren menjadi perlu diluruskan. Termasuk dalam hal ini, pemetaan corak pesantren kepada dua jenis, yakni pesantren modern (ashriyah) dan pesantren salaf (salafiyah).
Sesungguhnya, tambahnya, klasifikasi yang relevan adalah klasifikasi antara pesantren yang mendirikan sekolah formal dan pesantren yang tidak mendirikan sekolah formal. Sebab fakta yang terjadi adalah demikian, meskipun tanpa mengurangi etos penguasaan terhadap unsur-unsur modern.
“Pesantren salafiyah di Kediri, misalnya, tidak membuka sekolah formal, tetapi mampu terbuka terhadap pengetahuan umum. Keterbukaan terhadap IT (Information Technology) juga luar biasa,” ujarnya.
Dari kurang lebih 14.000 pesantren di Indonesia, sebagian besar lulusannya bisa bersaing dengan lembaga-lembag pendidikan lain. Kendati diakui, untuk meningkatkan itu semua dibutuhkan perjuangan yang cukup berat.
“Pesantren ini kan sudah lama sekali termarjinalkan, sementara sekolah-sekolah umum sudah lama dimanjakan. Tapi dengan kerja keras, insyaallah, kita bisa mengatasi ini semua,” tandasnya.
Redaktur: Mukafi Niam
Penulis : Mahbib Khoiron
Mereka semua terlihat hitam, hanya kau yang putih. ..
Pesonamu merenggut sinar matahari, menghentikan putaran bumi,
mengalahkan gemerlap bintang, membekukan aliran hujan, membunuh hembusan
angin, mencabik wajah bidadari, menduduki singgasana Tuhan..
Entah apa yang akan terjadi jika kau milikku dan aku milikmu, mungkin
cintaku dan cintamu akan merampas cinta Adam dan Hawa, Muhammad dan
Khadijah, Yusuf dan Zulaikha, Romeo dan Juliet..
aku mengagumimu...
Matahari telah tersadar...
bahwa aku mencintainya dan membutuhkannya...
Namun, ketika aku bertindak bodoh dan mencoba untuk mendekatinya...
dia
mengingatkan aku...
bahwa aku bukanlah manusia tahan panas yang mampu
berdiri di dekatnya...
Bukan berarti putus asa, ..
akan tetapi itulah
takdirku dan takdirnya...
dia matahari dan aku manusia.
sang pemuda pun mulai sadar,,,
tak mungkin mengejar matahari...
ia pun
memutuskan untuk menunggunya dan terus menunggunya,
sampai saat
kunjungan matahari tiba tanpa harus dikejar,
saat matahari
menghampirinya di bumi penantian,
dan saat matahari menghanguskan
seluruh hidupnya demi sebuah cinta dan harapan ..
kau pribadi yang menyenangkan...
dengan kepribadianmu itu kau dapat membuat orang merasa senang ketika ada di dekatmu...
aku menyukaimu...
kau insan yang mulia..
dengan kemulyaanmu..
kau dpat menjadikan orang merasa mulia..
saat ada di sampingmu..
aku mengagumimu...
kau orang yang pandai...
kau orang yang pintar,,,
tapi kau tak pernah merasa lebih pintar dari orang lain..
kau selalu merendah di hadapan orang lain..
kau tak pernah memintari orang lain..
bahkan kau mampu membuat orang menjadi pintar dan pandai ketika ada di sampingmu..
aku merindukanmu...
ku tahu kau orang yang kaya..
namun kau tetap tawadhu'..rendah hati,,
tak pernah kau membanggakan kekayaanmu..
sehingga tak terlihat dari bentuk luarmu yang anggun itu...
kau mampu bergaul dengan siapa saja,.
termasuk dengan orang sepertiku...
dengan kekayaanmu, kekayaan ilmumu, kekayaan hikmahmu, kekayaan senyummu, kekayaan pengalamanmu...
kau buat orang lain merasa " kaya" ketika ada bersamamu..
lagi lagi aku menyukaimu..
lagi lagi aku mengagumimu..
lagi lagi aku merindukanmu...
sejak awal, meski kita tak saling mengenal..
kurasakan ada hal yang berbeda ketika berpapasan denganmu...
aku tak tahu..
dari cara berjalanmu yang selalu merunduk...
dari tutur bicaramu yang lembut..
dari senyummu yang tawadhu'...
semuanya mencerminkanmu bahwa kau adalah orang yang berilmu..
saat ini, kita sudah saling mengenal..
aku minta maaf kepadamu..
ternyata apa yang kusangkakan kepadamu salah..
engkau ternyata lebih dari sekadar apa yang kusangkakan kepadamu..
Allahu Yaa Kariim...
begitu indahnya dirimu...
ku ingin mengenalmu melalui hatiku, bukan hanya sekadar dengan mataku...
ku ingin menyukaimu dengan jiwaku, bukan hanya dengan kata,,.
ku ingin menyayangimu dengan perasaan bukan dengan fikiran..
dan aku ingin melindungimu layaknya bulan dan matahari menerangi bumi...







