RSS

mari kawan jadi pelopor bukan pengekor, mari kawan jadi pengais bukan pengemis, mari kawan jadi pemenang bukan pecundang

Pendidikan Karakter


PENDIDIKAN KARAKTER

Di Susun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Kajian Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah
Dosen Pengampu : Drs.H. Sedyo Santoso,S.S.M.Pd.



Di susun Oleh
Danang Kurniawan (09480125)


JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A. ABSTRAK
Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.

Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Nilai- nilai Karakter

B. LATAR BELAKANG
Kondisi bangsa indonesia sedang mengalami krisis multidimensi dan keterpurukan dalam berbagai dimensi sementara sumber daya potensial di dunia ini tidak terkira melimpah ruah, tetapi kondisi yang dirasakan oleh banyak orang (rakyat) adalah jauh dari kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan.
Kompleksitas masalah tidak dimaksudkan untuk menuduh kinerja pemerintahan yang rendah, tetapi lebih kepada ajakan kepada semua pihak untuk bersinergi dalam pemecahan masalah ini secara simultan, berkelanjutan dan menyeluruh.
Melihat fenomena yang terjadi saat ini, pemerintah mulai tersadar dan melakukan perbaikan. Banyak persoalan bangsa yang harus diselesaikan,terutama menyangkut perilaku. Untuk itulah mulai tahun 2010 pemerintah merancangkan pendidikan karakter. Bahkan dalam kementrian pendidikan nasional disampaikan bahwa pendidikan karakter ini merupakan program unggulan pemerintah tahun 2010-2015.
Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.
Pendidikan karakter saat ini sangatlah penting. Pendidikan karakter sangat menentukan kemajuan peradaban bangsa, yang tak hanya unggul dan tetapi juga bangsa yang cerdas. Mengutip filsuf Yunani Aristoteles, bahwa ada dua penentu kemajuan bangsa. Pertama pemikiran dan kedua karakter.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian pendidikan karakter
2. Pentingnya pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia
3. Tujuan pendidikan karakter
4. Pelaksanaan pendidikan karakter
D. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Untuk mengetahui pengertian pendidikan karakter.
2. Untuk mengetahui pentingnya pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia
3. Untuk mengetahui tujuan dari pendidkan karakter
4. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter

E. SASARAN
Adanya pembuatan makalah ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan dalam dunia pendidikan khususnya bagi orang tua dan guru, agar mereka mampu memberikan pendidikan karakter kepada anak-anaknya maupun siswa semenjak dini agar pendidikan karakter tersebut melekat pada diri anak hingga dewasa.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan sebuah istilah yang semakin hari semakin mendapat pengakuan dari masyarakat Indonesia saat ini. Terlebih dengan dirasakannya berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari perilaku lulusan pendidikan formal saat ini semisal korupsi, perkembangan seks bebas pada remaja, tawuran, perampokan, juga pengangguran lulusan sekolah menengah dan atas. Semua terasa lebih kuat ketika negara ini dilanda krisis yang hingga sampai saat ini tidak bisa beranjak dari krisis yang dialami.
Istilah pendidikan karakter masih jarang didefisinikan oleh banyak kalangan sehingga masih banyak masalah ketidaktepatan makna yang beredar di masyarakat mengenai makna pendidikan karakter, antara lain pendidikan karakter adalah mata pelajaran agama dan PKn, karenanya itu menjadi tanggung jawab guru Agama dan PKn saja. Ada pula yang mengartikan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran yang berkaitan dengan budi pekerti dan sebagainya. Berbagai makna yang kurang tepat tentang pendidikan karakter itu bermunculan dan menempati pemikiran banyak orang tua, guru, dan masyarakata umum.
Secara bahasa, karakter dapat difahami sebagai sifat dasar, kepribadian, tingkah laku/perilaku dan kebiasaan yang berpola. Perspektif pendidikan karakter adalah peranan pendidikan dalam membangun karakter peserta didik. Pendidikan karakter adalah upaya penyiapan kekayaan peserta didik yang berdimensi agama, sosial, budaya, yang mampu diwujudkan dalam bentuk budi pekerti baik dalam perkataan, perbuatan, pikiran, sikap , dan kepribadian.
Selanjutnya Ki Hadjar Dewantara mengatakan, yang dinamakan “budipekerti” atau watak atau dalam bahasa asing disebut “karakter” yaitu “bulatnya jiwa manusia” sebagai jiwa yang “berasas hukum kebatinan”. Orang yang memiliki kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya orang dapat kita kenal wataknya dengan pasti; yaitu karena watak atau budipekerti itu memang bersifat tetap dan pasti.
Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi (2004:95), “sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan secara bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari- hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap lingkungannya.”
Menurut Ahmad Sudrajat, Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

B. Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Bangsa Indonesia
Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Dilihat dari kekayaan yang dimilki bangsa Indonesia dapat dikategorikan bahwa negara kita sangat melimpah diserti dengan letak kepulauan yang terletak di garis khatulistiwa, tanah yang subur, air yang melimpah, udara yang sangat segar, kaya akan sumber energi dan lain-lain. Seharusnya dengan kondisi yang seperti itu, rakyat indonesia dapat merasakan kehidupan yang makmur dan sejahtera dari waktu ke waktu. Kenyataan yang dialami oleh bangsa ini menunjukkan kondisi yang berbeda dengan logika kekayaan sosial, budaya, dan alam. Kondisi yang dialami menunjukkan bahwa kekayaan alam tereksploitasi besar-besaran, pembangunan industri terjadi terus-menerus, dan pergantian pemerintah terus berlangsung dari waktu ke waktu, tetapi kebanyakan rakyat indonesia belum mendapatkan dana mengalami kehidupan yang makmur dan sejahtera.
Sejenak, mari kita lihat beberapa indikasi tentang “apa yang salah dengan bagsa ini”
1. Kondisi moral/ akhlak genersi muda yang hancur/rusak. Hal ini ditandai dengan maraknya seks bebas di kalangan remaja, peredaran narkoba di kalangan remaja,tawuran, peredaran foto dan video porno di kalangan pelajar, dan sebaginya.
2. Pengangguran terdidik yang mengkhawatirkan (lulusan SMA, SMK, dan Perguruan Tinggi). Data BPS menyebutkan bahwa tamatan SD ke bawah justru paling sedikit menganggur. (sumber : http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/4317/tentangkami).
3. Rusaknya moral bangsa dan menjadi akut (korupsi, asusila, kejahatan, tindakan kriminal pada semua sektor pembangunan,dll) korupsi semakin merajalela. Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Tahun 2009 naik menjadi 2,8 % dari 2,6 % pada tahun 2008. Dengan skor ini peringkat indonesia terdongkrak cukup signifikan, yakni berada di urutan 111 dari 180 Negara ( naik 15 posisi) yang disurvey IPK-nya oleh Transarancey Internasional.
(http://ww.kpk.go.id/modules/news/article.php?storyid=942).
4. Bencana yang sering/ terus berulang dialami oleh bangsa Indonesia ( bisa diduga sebagai azab atau bodohnya negeri ini dalam memecahkan masalah lingkungan, seperti banjir, longsor, kebakaran)
5. Kemiskinan yang semakin merajalela
6. Daya kompetitif yang rendah, sehingga banyak produk dalam negeri dan Sumber Daya manusia yang tergantikan oleh produk dan sumber daya manusia dari tetangga atau luar negeri.
7. Inefisiensi pembiayaan pendidikan. Inefisiensi biaya pendidikan ini dapt dilihat dari rendahnya dampak yang dihasilkan dari institusi pendidikan kita. Angka pengangguran yang terus bertammbah menunjukkan bahwa lulusan persekolahan sampai saat ini belum mampu menjawab perubahan zaman dan kompetisi yang ketat dengan bagsa-bangsa yang lain.

Beberapa kasus di atas menunjukkan bahwa pendidikan kita belum mampu membangun karakter bangsa. Praksis pendidikan yang terjadi di kelas-kelas tidak lebih dari latihan-latihan skolastik, seperti mengenal, membandingkan, melatih, dan menghapal, yakni kemampuan kognitif yang sangat sederhana, di tingkat paling rendah (Winarno Surachmad, dkk.: 2003: 114).
Melihat fenomena yang terjadi saat ini, pemerintah mulai sadar dan terbangun untuk melakukan perbaikan. Banyak persoalan bangsa yang harus diselesaikan, terutama yang menyangkut perilaku. Untuk itu mulai tahun 2010 pemerintah merancang pendidikan karakter.




C. Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Mencermati fungsi pendidikan nasional, yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa seharusnya memberikan pencerahan yang memadahi bahwa pendidikan harus berdampak pada watak manusia/ bangsa Indonesia atau karakter. Karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi dapat diukur. Tujuan pendidikan karakter meliputi :
1. Mendorong kebiasaan perilaku yeng terpuji sejalan dengan nilai- nilai universal, tradisi budaya, kesepakatan sosial, dan religiositas agama.
2. Menanamkan jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab sebagai penerus bangsa
3. Memupuk ketegaran dan kepekaan mental peserta didik terhadap situasi sekitarnya, sehingga tidak terjerumus kepada perilaku yang menyimpang, baik secara indivdu maupun sosial.
4. Meningkatkan kemmpuan menghindari sifat tercela yang dapat merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
5. Agar siswa memahami dan menghayati nilai- nilai yang relevan bagi pertumbuhan dan penghargaan harkat dan martabat manusia.





D. Pelaksanaan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang pemerintah dari tahun 2005 sampai 2025. Tahun 2010-2015 program pendidikan karakter menjadi program unggulan. Ada empat karakter yang dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Pertama adalah olah hati, yaitu mengembangkan aset yang terkait dengan Tuhan (hablum minallah) sehingga bisa bekerja dengan ikhlas. Kedua yaitu olah rasa/ karsa, sehingga dapat mengembangkan aset yang terkait hubungan antar sesama (hablum minannas). Ketiga adalah olah pikir, yaitu mengembangkan aset yang terkait dengan akal agar mampu berpikir dengan jernih dan cerdas. Keempat adalah olahraga, yaitu mengembangkan aset fisik agar selalu sehat dan mampu bekerja dengan keras.
Pendidikan karakter bukanlah materi khusus dan bukan hanya tanggungjawab guru agama dan PKn. Pendidikan karakter menjadi tanggungjawab semua pemangku kepentingan. Semua guru harus terllibat dalam mengawal pendidikan karakter. Minimal ada empat hal yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter.
Pertama, pendidikan karakter terintregasi ke dalam semua mata pelajaran. Tentunya hal tersebut bisa dilihat dalam lesson plan, karena lesson plan adalah standar operasional pelaksanaan (SOP) guru dalam proses pembelajaran. Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, dimana tujuan pendidikan karakter adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Adapun nilai-nilai yang perlu dihayati dan diamalkan oleh guru saat mengajarkan mata pelajaran di sekolah adalah: religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, senang membaca, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggung jawab.
Kedua, pendidikan karakter terbangun dari budaya pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan- kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut meliputi nilai-nila yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik, dan tenaga kependidikan serta komponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter sekolah.
Ketiga, pendidikan karakter terlihat dalam kegiatan ekstra kulikuler. Penanaman nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstra kurikuler meliputi: pembiasaan akhlak mulia, kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS), kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), tata krama dan tata tertib kehidupan sosial sekolah, kepramukaan, upacara bendera, pendidikan pendahuluan bela negara, pendidikan berwawasan kebangsaan, UKS, PMR, serta pencegahan penyalahgunaaan narkoba.
Keempat, membangun sinergi antara sekolah dengan rumah dalam mengawal perilaku mulia pada anak. Kedua lingkungan pendidikan tersebut sangat erat kaitannya satu dengan lainnya, sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan, dan memerlukan kerjasama yang sebaik-baiknya, untuk memperoleh hasil pendidikan maksimal seperti yang dicita-citakan. Hubungan sekolah (perguruan) dengan rumah anak didik sangat erat, sehingga berlangsungnya pendidikan terhadap anak selalu dapat diikuti serta diamati, agar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Secara bahasa karakter dapat dipahami sebagai sifat dasar,kepribadian, perilaku/tingkah laku,dan kebiasaan yang berpola. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Nilai-nilai yang perlu diinternalisasikan kepada peserta didik dalam pengembangan karakter diantaranya adalah religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, senang membaca, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggung jawab

B. Saran

Penyelenggaraan pendidikan jangan hanya terjebak pada pencapaian target sempit, yang hanya melakukan transfer of knowledge melainkan perlu dengan sengaja (by design) mengupayakan terjadinya transformasi nilai untuk pembentukan karakter anak bangsa. Pembentukan karakter peserta didik perlu melibatkan tri pusat pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) secara sinergis



DAFTAR PUSTAKA

Haryanto.Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara. Kurikulum dan Pendidikan FIP UNY.2011
Kesuma, Dharma dkk. Pendidikan Karakter: kajian teori dan praktik.Bandung. Remaja Rosdakarya Offset. 2011
PendidikanKarakterBangsa.[online].Tersedia:http://www.scribd.com/doc/5071941 5/Pendidikan-Karakter-Bangsa-Artikel- Makalah [27 Februari 2012]

PendidikanKaraktersangatpenting.[online].tersedia:http://nasional.kompas.com/re ad/2011/05/20/21473385/SBY.Pendidikan.Karakter .Sangat.Penting [27 Februari 2012]
PendidikankarakterdiSMP.[online].tersedia:http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2010/08/20/pendidikan-karakter-di-smp/ [27 Februari 2012]

Pentingnyapendidikankarakter.[online].tersedia:http://www.pendidikankarakter.co m/pentingnya-pendidikan-karakter-dalam- dunia-pendidikan/[27 Februari 2012]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

lupakan

Lupakan.....
lupakan....
Lupakan...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MATAHARI DAN MANUSIA

Matahari telah tersadar bahwa aku mencintainya dan membutuhkannya.
Namun, ketika aku bertindak bodoh dan mencoba untuk mendekatinya.
Dia mengingatkan aku bahwa aku bukanlah manusia tahan panas yang mampu berdiri di dekatnya.
Bukan berarti putus asa, akan tetapi itulah takdirku dan takdirnya.
Dia matahari dan aku manusia. ...

Dan diriku pun mulai sadar, tak mungkin mengejar matahari..

aku berfikir...
Apakah ada bedanya, ketika aku hanya diam menunggu dengan ketika aku mengejar bayangannya?
Keduanya sama-sama kosong...
aku pun memutuskan untuk menunggunya dan terus menunggunya
sampai saat kunjungan matahari tiba tanpa harus dikejar, saat matahari menghampiriku di bumi penantian,
dan saat matahari menghanguskan seluruh hidupku demi sebuah cinta dan harapan


Cinta yang aku beri, sepenuh hati... Entah yang aku terima, aku tak perduli...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

aku tahu siapa yang kamu suka..
aku tahu siapa yang kamu cinta...
dari tutur bicaramu..
dari perlakuanmu kepadanya..

saat kau berbicara tentang dirinya di depanku...
entah sengaja atau tidak..ada sesuatu yg lebih dr bicaramu...
entah.. seperti ada kekuatan ghaib yang membuatmu seperti itu..
tapi... aku suka itu...
aku doakan...
semoga kalian bisa menyatukan cinta kalian...
senang sekali rasanya nanti jika aku mendapat undangan dari kalian...
dan aku harapkan seperti itu...
suatu saat nanti ... .....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Artikel 1

Artikel 1

MEMBACA SHOLAWAT SETELAH ADZAN

Bila difahami lebih mendalam seringkali sebuah laku ibadah memiliki nilai ganda. Satu nilai spiritual yang berorientasi Yang Maha Kuasa (hablum minallah), Sisi lain nilai social (hablum minan nas) menjadi syiar bagi Islam itu sendiri. Misalnya shalat Jum’ah, ibadah haji, Adzan dan lain sebagainya. Akan tetapi sebagian kaum muslim tidak dapat memahami hal ini dengan baik. Malahan sebaliknya, laku ibadah itu menjadi sumber perdebatan yang ujungnya bermuara pada pembelaan ego sebuah kelompok tertentu. Sehingga yang terjadi adalah saling tuding bid’ah dan klaim-klaim primordial


Sebut saja perdebatan mengenai hukum khatib memegang tongkat dalam shalat jum’at. Atau hukum berziarah ke tempat-tempat bersejarah di Makkah-Madinah ketika haji. Atau sekedar membaca shalawat setelah adzan dalam setiap shalat dan masih banyak lagi lainnya. Perdebatan semacam ini tidak harus terjadi apabila kaum muslimin memahami konteks sebuah laku ibadah.

Di sinilah perlunya klarifikasi hukum berdasar pada dalil hadits maupun sunnah. Seperti dalil seputar pembacaan shalawat kepada Nabi setelah adzan yang asal hukumnya adalah sunnah, dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim (hadits no. 384), dan Abu Dawud (hadis no. 523). Yaitu:
اِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَأَ فَقُوْلُوْا مَثَلُ مَا يَقُوْلُ ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ
Artinya: Ketika kalian mendengarkan adzan maka jawablah, kemudian setelah itu bacalah sholawat kepadaku. (H.R. Muslim dan Abu Dawud)

Pendapat di atas ini juga didukung oleh Imam Jalaludin as-Suyuthi, Ibnu Hajar al-Haitsami, Syeikh Zakariya al-Anshari, dan lain lain.

Imam Ibnu Abidin dalam ‘hasyiyahnya’ mengatakan, bahwa pendapat yang didukung oleh Madzhab Syafi’i dan Hanbali adalah pendapat yang mengatakan shalawat setelah adzan adalah sunah bagi orang yang adzan dan orang yang mendengarkannya.

Para ulama memberikan penjelasan bahwa, pada hakikatnya puji-pujian setelah adzan adalah dalam kategori bid’ah hasanah.

Sedangkan pengamalan puji-pujian secara popular baru mulai sekitar tahun 781 H, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abidin dalam kitab “Hasiyah” yang merujuk pada pendapat Imam as-Sakhawi.
Dalam kitab “taj al-jami” ada dijelaskan bahwa :

اَلصَّلاَةُ بَعْدَ اْلاَذنِ سُنَّةٌ لِلسَّامِعِ وَاْلمُؤَذّنُ وَلَوْ بِرَفْعِ الصَّوْتِ, وَعَلَيْهِ الشَّافِعِيَّة وَاْلحَنَابِلَة وَهِيَ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ .

Artinya : Membaca shalawat setelah adzan adalah sunah, baik bagi orang yang adzan maupun orang yang mendengarkannya, dan boleh mengeraskan suara. Pendapat inilah yang didukung oleh kalangan madzhab Syafi’iyah, dan kalangan madzhab Hanbali.



Sumber "Tradisi Amalian NU dan Dalilnya", LTM-PBNU, Jakarta, 2011 (Redaktur: Ulil Hadrawi)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wisata

Wisata

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kuliner

Kuliner

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS